web analytics

What are human factors in psychology explained

macbook

February 6, 2026

What are human factors in psychology explained

What are human factors in psychology takes center stage, this opening passage beckons readers into a world crafted with good knowledge, ensuring a reading experience that is both absorbing and distinctly original.

This deep dive unpacks the fascinating field of human factors in psychology, exploring how understanding human capabilities and limitations is crucial for designing effective and safe systems. From its historical roots to cutting-edge applications, we’ll uncover the core principles and practical impact of this interdisciplinary science.

Defining Human Factors in Psychology: What Are Human Factors In Psychology

What are human factors in psychology explained

Jadi, human factors dalam psikologi itu kayak ngeliat gimana sih manusia berinteraksi sama lingkungan, alat, sama sistem yang ada di sekitarnya, tapi fokusnya pake kacamata psikologi. Ini bukan cuma soal bikin barang gampang dipake doang, tapi lebih dalem lagi, nyelametin gimana otak kita mikir, gimana perasaan kita bereaksi, dan gimana tingkah laku kita terbentuk pas ngadepin sesuatu. Intinya, biar interaksi sama teknologi atau lingkungan itu aman, nyaman, dan efisien buat manusia.Secara mendasar, human factors dalam psikologi itu adalah disiplin ilmu yang nyari tau gimana karakteristik psikologis manusia, kayak persepsi, kognisi, memori, motivasi, dan emosi, itu ngaruh ke performa dan keselamatan pas mereka pake produk, sistem, atau ngadepin lingkungan kerja.

Tujuannya biar bisa mendesain sesuatu yang sesuai sama kemampuan dan keterbatasan manusia, bukan malah bikin manusia yang harus maksain diri.

Core Objectives of Studying Human Factors in Psychology, What are human factors in psychology

Tujuan utama kita mempelajari human factors dari sisi psikologi itu banyak banget, tapi intinya sih biar interaksi manusia sama sistem atau lingkungan itu jadi lebih baik. Kita pengen ngerti banget gimana manusia bekerja, biar bisa bikin sistem yang nggak bikin stres, nggak bikin salah, dan malah bikin produktivitas naik.

Beberapa tujuan inti dari studi human factors dalam konteks psikologi:

  • Meningkatkan keselamatan: Ini yang paling krusial. Dengan paham gimana manusia bisa bikin kesalahan (human error), kita bisa mendesain sistem yang ngurangin potensi kecelakaan atau insiden. Misalnya, di kokpit pesawat, tombol-tombol didesain biar nggak gampang kepencet salah pas pilot lagi panik.
  • Meningkatkan efisiensi dan produktivitas: Sistem yang didesain bagus itu bikin orang kerja lebih cepet dan bener. Nggak perlu mikir keras buat ngertiin cara kerjanya, jadi energi bisa difokusin ke tugas utamanya. Contohnya, software yang user-friendly bikin karyawan lebih cepet nguasain dan pake fitur-fiturnya.
  • Meningkatkan kepuasan pengguna: Kalau pake sesuatu itu gampang, nyaman, dan nggak bikin frustrasi, orang pasti lebih seneng. Ini penting banget buat produk konsumen, aplikasi, sampe lingkungan kerja. Rasanya kayak nemu gadget yang pas banget di tangan.
  • Mengurangi beban kognitif: Otak kita punya kapasitas terbatas buat mikir. Human factors nyari cara biar sistem nggak membebani otak berlebihan, misalnya dengan ngasih informasi yang jelas, ngurangin jumlah keputusan yang harus diambil, atau ngatur alur kerja yang logis.
  • Memahami dan mengatasi keterbatasan manusia: Kita nggak sempurna, ada aja keterbatasan kayak pandangan yang nggak seberapa jelas di gelap, atau kemampuan multitasking yang terbatas. Human factors mempertimbangkan ini biar desainnya tetep efektif buat semua orang.

Primary Goals of Human Factors Researchers and Practitioners

Para peneliti dan praktisi human factors punya target yang jelas banget pas mereka lagi neliti atau nerapin ilmu ini. Mereka nggak cuma sekadar observasi, tapi pengen ada perubahan nyata yang bikin hidup manusia jadi lebih baik, lebih aman, dan lebih efisien.

Target utama yang ingin dicapai:

  • Menciptakan desain yang intuitif: Ini artinya, orang bisa langsung ngerti cara pake sesuatu tanpa perlu baca manual panjang lebar. Desainnya ngikutin kebiasaan atau ekspektasi alami manusia. Kayak tombol “like” di media sosial, semua orang langsung ngerti fungsinya.
  • Memprediksi dan mencegah kesalahan manusia: Bukan buat nyalahin orang kalau salah, tapi buat ngerti kenapa kesalahan itu bisa terjadi dan gimana cara ngelindungin orang dari kesalahan itu. Misalnya, bikin sistem peringatan dini di mobil kalau pengemudi mulai ngantuk.
  • Mengoptimalkan interaksi manusia-sistem: Ini tentang gimana caranya bikin komunikasi antara manusia dan teknologi itu lancar jaya. Nggak ada miskomunikasi, nggak ada kebingungan. Contohnya, antarmuka (interface) yang jelas dan responsif di aplikasi mobile.
  • Meningkatkan performa individu dan tim: Dengan sistem yang mendukung, baik individu maupun tim bisa bekerja lebih baik, lebih fokus, dan mencapai hasil yang lebih optimal. Ini sering diliat di lingkungan kerja yang kompleks kayak pusat kendali lalu lintas udara.
  • Menjamin aksesibilitas dan inklusivitas: Desain yang baik itu harus bisa dipake sama semua orang, termasuk mereka yang punya disabilitas. Human factors nyari cara biar teknologi dan lingkungan itu bisa diakses sama semua kalangan.
  • Mengembangkan standar dan pedoman desain: Para praktisi juga berperan bikin aturan atau panduan yang bisa dipake sama desainer lain biar produk yang dihasilkan itu udah pasti aman dan efektif buat manusia.

Contoh nyata dari tujuan ini adalah pengembangan sistem autopilot di pesawat terbang. Para peneliti human factors mempelajari gimana pilot mengambil keputusan di bawah tekanan, bagaimana mereka memproses informasi visual dan auditori, dan bagaimana interaksi mereka dengan kontrol pesawat. Berdasarkan temuan ini, sistem autopilot didesain untuk mengurangi beban kerja pilot, memberikan peringatan yang jelas jika ada situasi berbahaya, dan memastikan bahwa kontrol pesawat mudah diakses dan dipahami, bahkan dalam kondisi darurat.

Tujuannya jelas: mengurangi risiko kecelakaan akibat kesalahan manusia dan meningkatkan keselamatan penerbangan secara keseluruhan.

Historical Development and Evolution

Skeleton Structure Construction Simulator - Infoupdate.org

Jadi gini, kalo ngomongin soal human factors di psikologi, itu bukan barang baru, lho. Akarnya tuh udah panjang banget, mulai dari zaman dulu pas manusia mulai mikirin gimana caranya bikin alat atau sistem yang pas sama kita. Awalnya sih nggak pake nama “human factors” kayak sekarang, tapi esensinya udah ada.Perkembangan ini kayak orang belajar masak, dari sekadar nyobain-nyobain sampe punya resep canggih.

Dulu fokusnya lebih ke efisiensi dan gimana biar kerjaan cepet kelar, tapi lama-lama kesadaran kalau kenyamanan dan keamanan manusia itu penting banget makin kuat. Ini yang bikin human factors jadi bidang yang luas dan makin relevan sampe sekarang.

Early Origins and Industrial Revolution

Awal mula penelitian human factors itu nyambung banget sama Revolusi Industri. Pas pabrik-pabrik mulai bermunculan dan mesin-mesin makin canggih, muncullah masalah baru soal gimana caranya manusia bisa kerja bareng mesin itu dengan aman dan efektif. Para insinyur dan ilmuwan mulai merhatiin gimana sih keterbatasan fisik dan mental manusia itu bisa ngaruh ke performa kerja.Salah satu contoh paling awal itu dari Frederick Winslow Taylor, yang terkenal sama teori “scientific management”-nya.

Dia tuh mikirin gimana caranya bikin kerjaan jadi lebih efisien dengan ngeliatin gerakan pekerja dan ngasih instruksi yang jelas. Meskipun fokusnya lebih ke produktivitas, ini udah jadi langkah awal buat ngertiin interaksi manusia sama lingkungan kerjanya.

World Wars and Aviation Psychology

Perang Dunia, terutama Perang Dunia I dan II, jadi titik balik gede banget buat human factors. Kebutuhan buat bikin pesawat tempur yang gampang dikendaliin dan aman buat pilot jadi prioritas utama. Para psikolog diajak gabung buat nyari tau gimana sih pilot itu ngambil keputusan di bawah tekanan, gimana mereka ngeliat instrumen, dan gimana biar nggak gampang capek.Tokoh-tokoh kayak Alphonse Chapanis dan Paul Fitts jadi penting banget di era ini.

Chapanis, misalnya, dia tuh ngertiin banget soal gimana kesalahan manusia itu sering terjadi bukan karena orangnya bodoh, tapi karena desain sistemnya yang nggak pas. Dia juga yang pertama kali ngusulin konsep “human-machine compatibility”, yang intinya nyari tau gimana caranya bikin alat itu “ngomong” sama penggunanya dengan jelas.

Expansion into Various Domains

Setelah perang usai, prinsip-prinsip human factors yang tadinya fokus di militer dan penerbangan mulai merambah ke bidang lain. Kesadaran kalau desain yang baik itu bisa bikin hidup lebih gampang dan aman bikin banyak industri lain tertarik. Mulai dari desain produk konsumen, ergonomi di kantor, sampe sistem transportasi.Bidang ini makin berkembang karena adanya kemajuan teknologi. Pas komputer mulai jadi barang umum, misalnya, muncullah “computer-human interaction” (CHI) yang fokus gimana caranya bikin software dan hardware komputer itu gampang dipake sama orang awam.

Ini nunjukin kalau human factors itu dinamis, selalu ngikutin perkembangan zaman dan teknologi.

Modern Human Factors and User Experience (UX)

Sekarang, human factors udah jadi bidang yang sangat matang dan punya banyak cabang. Konsep “user experience” (UX) yang lagi ngetren banget itu sebenernya akar-akarnya dari human factors. Intinya, gimana caranya bikin produk atau layanan itu nggak cuma fungsional, tapi juga menyenangkan dan memuaskan buat penggunanya.Penelitian human factors modern itu udah canggih banget, pake berbagai metode kayak observasi, eksperimen, simulasi, sampe analisis data yang kompleks.

Tujuannya tetap sama: bikin dunia ini jadi tempat yang lebih aman, efisien, dan nyaman buat manusia, dengan cara ngertiin kita lebih dalam lagi.

Key Concepts and Principles

HUMAN - La película - Las cosas del Abuelo O'hara

Nah, sekarang kita bakal ngobrolin soal konsep-konsep inti dan prinsip-prinsip yang jadi pondasi Human Factors di psikologi. Ini tuh kayak bahan-bahan dasar yang bikin kita paham gimana manusia berinteraksi sama lingkungannya, terutama sama teknologi. Kalo ngerti ini, desain jadi lebih enak dipake, bro.Intinya, Human Factors itu berusaha nyocokin desain sama kemampuan dan keterbatasan manusia. Jadi, bukan manusianya yang disuruh ngikutin desain yang ribet, tapi desainnya yang dibikin biar gampang dipake sama manusia.

Keren kan? Ini nih beberapa konsep pentingnya yang perlu kita bedah.

Theoretical Frameworks in Human Factors

Ada beberapa kerangka teori yang jadi pegangan di Human Factors. Ini ngebantu kita ngerti kenapa orang bertindak kayak gitu dan gimana kita bisa bikin sistem yang lebih baik.

  • Cognitive Systems Engineering (CSE): Kerangka ini fokus ke gimana manusia ngolah informasi, ngambil keputusan, dan ngatasin masalah pas pake sistem yang kompleks. Intinya, gimana bikin sistem yang dukung proses kognitif kita biar gak gampang salah.
  • Ecological Psychology: Teori ini ngeliat interaksi manusia sama lingkungannya secara utuh. Gak cuma ngeliatin otaknya doang, tapi juga gimana lingkungan itu ngasih “petunjuk” buat kita bertindak.
  • Activity Theory: Ini ngeliat aktivitas manusia sebagai kesatuan yang kompleks, termasuk alat yang dipake, tujuan, aturan, dan komunitas. Jadi, interaksi sama mesin itu bagian dari aktivitas yang lebih gede.
  • Distributed Cognition: Konsep ini bilang kalo proses kognitif itu gak cuma ada di dalem kepala satu orang, tapi bisa tersebar di antara orang, alat, dan lingkungan. Makanya, desain sistem harus mikirin gimana informasi disebar dan diakses sama banyak orang.

Cognitive Biases and Performance Impact

Kognitif bias itu kayak “jalan pintas” pikiran kita yang kadang bikin kita salah ngambil kesimpulan. Di Human Factors, ini penting banget karena bisa ngaruh ke kinerja orang, apalagi pas lagi berinteraksi sama sistem. Kalo gak diperhatiin, bisa fatal.

  • Confirmation Bias: Orang cenderung nyari atau nginterpretasiin informasi yang udah sesuai sama keyakinan mereka. Contohnya, kalo seseorang yakin kalo tombol merah itu buat “stop”, dia bakal terus nyari bukti kalo tombol merah emang buat “stop”, meskipun tombol itu sebenernya buat “darurat”. Ini bisa bikin salah pencet tombol penting.
  • Availability Heuristic: Orang ngasih bobot lebih ke informasi yang gampang diinget atau yang baru aja dialamin. Misalnya, kalo ada berita kecelakaan pesawat yang heboh, orang jadi lebih takut naik pesawat padahal secara statistik naik mobil lebih bahaya. Dalam desain, ini bisa bikin pengguna panik atau ngambil keputusan gegabah gara-gara informasi yang gampang diakses tapi belum tentu akurat.
  • Anchoring Bias: Orang cenderung terlalu bergantung sama informasi pertama yang mereka dapet (jangkar) pas ngambil keputusan. Contohnya, kalo di harga barang ada diskon dari harga awal yang tinggi, orang jadi ngerasa lebih untung meskipun harga diskonnya masih mahal. Dalam antarmuka, ini bisa ngefek ke gimana pengguna ngira-ngira harga atau nilai suatu item.
  • Hindsight Bias: Kecenderungan buat ngerasa kalo kejadian itu sebenernya udah bisa diprediksi (“udah ketebak dari awal”). Ini bisa bikin kita gak belajar dari kesalahan, karena ngerasa itu cuma kebetulan aja. Dalam evaluasi desain, ini bisa bikin kita meremehkan kesulitan yang dialamin pengguna asli pas pertama kali nyobain.

Perception and Attention in Human-Machine Interaction

Persepsi itu cara kita nerima dan ngolah informasi dari dunia luar lewat indra kita. Perhatian itu kemampuan kita buat fokus ke satu hal di antara banyak gangguan. Keduanya krusial banget pas manusia pake mesin atau sistem. Kalo desainnya gak sesuai sama cara kita persepsi dan perhatian, ya pasti ribet.

  • Perception: Desain harus jelas dan gampang dikenali. Warna, bentuk, ukuran, dan kontras itu penting. Misalnya, lampu indikator di dashboard mobil harus punya warna yang standar (merah buat bahaya, kuning buat peringatan) biar pengemudi langsung ngerti artinya tanpa mikir. Gestalt principles (proximity, similarity, closure) juga ngebantu kita ngelompokkin elemen visual biar lebih gampang dipahami.
  • Attention: Kita punya keterbatasan perhatian. Makanya, informasi penting harus ditonjolin, dan informasi yang gak penting harus disembunyiin biar gak ganggu. Notifikasi yang berlebihan bisa bikin pengguna kewalahan dan melewatkan informasi krusial. Desain yang baik itu bisa ngarahin perhatian pengguna ke hal yang penting pada waktu yang tepat.

Psychological Principles of Memory and Design Relevance

Memori itu kemampuan kita nyimpen dan ngambil informasi. Ada memori jangka pendek (working memory) yang kapasitasnya terbatas, sama memori jangka panjang. Kalo desain sistem ngelawan prinsip-prinsip memori, pengguna bakal gampang lupa, salah inget, atau jadi frustrasi.

  • Working Memory Limitations: Karena kapasitasnya terbatas, jangan ngeberatin pengguna dengan ngasih terlalu banyak informasi sekaligus. Chunking (ngelompokkin informasi jadi unit yang lebih kecil, kayak nomor telepon) itu penting. Contohnya, nomor kartu kredit itu dibagi per empat digit biar lebih gampang diinget dan dimasukin.
  • Recognition vs. Recall: Lebih gampang buat kita “mengenali” sesuatu daripada “mengingatnya” dari nol. Makanya, menu dropdown, ikon yang jelas, atau opsi yang udah disediain itu lebih baik daripada nyuruh pengguna ngetik semuanya sendiri.
  • Long-Term Memory Encoding: Informasi yang sering dipake atau punya makna emosional bakal lebih gampang diinget. Dalam desain, ini berarti konsistensi dalam penempatan elemen atau penggunaan istilah yang umum biar pengguna gak perlu belajar ulang setiap kali.
  • Forgetting Curve: Kita cenderung lupa informasi seiring waktu. Makanya, informasi penting perlu diulang atau dikasih pengingat. Di aplikasi, ini bisa berupa notifikasi berkala atau ringkasan progres.

Motivation and Task Engagement

Motivasi itu dorongan buat ngelakuin sesuatu. Dalam konteks Human Factors, motivasi ngefek banget ke seberapa serius dan teliti pengguna ngerjain tugasnya pake sistem yang didesain. Kalo sistemnya bikin frustrasi, motivasi bakal anjlok.

  • Intrinsic vs. Extrinsic Motivation: Motivasi intrinsik itu dateng dari diri sendiri (seneng sama tugasnya), sementara ekstrinsik dateng dari luar (hadiah, hukuman). Desain yang baik bisa manfaatin keduanya. Game itu contoh bagus, ada elemen “fun” (intrinsik) dan juga skor atau level (ekstrinsik).
  • Goal Setting Theory: Tujuan yang jelas dan menantang tapi realistis itu bikin orang lebih termotivasi. Di aplikasi, ini bisa berupa progress bar yang nunjukkin seberapa jauh pengguna udah nyampe atau target yang harus dicapai.
  • Self-Efficacy: Kepercayaan diri pengguna buat berhasil ngerjain tugas. Desain yang ngasih feedback positif, ngasih panduan yang jelas, dan ngurangin kemungkinan gagal itu bisa ningkatin self-efficacy.
  • Flow State: Kondisi di mana pengguna bener-bener tenggelam dalam tugasnya, lupa waktu, dan ngerasa tantangannya pas. Ini terjadi kalo tingkat kesulitan tugasnya seimbang sama kemampuan pengguna. Desain yang bisa bikin pengguna masuk ke flow state itu biasanya bikin mereka lebih produktif dan puas.

Applications Across Domains

AI vs Human Reasoning: GPT-3 Matches College Undergraduates ...

Nah, jadi gini, human factors tuh nggak cuma buat di lab doang, tapi beneran kepake di mana-mana. Kalo kita ngerti gimana orang mikir, berasa, dan bertindak, kita bisa bikin banyak hal jadi lebih gampang, aman, dan nyaman dipake. Mulai dari gadget yang kita pegang sampe sistem pesawat terbang, semua tuh ada sentuhan human factors-nya.Intinya, human factors itu kayak jembatan antara teknologi sama manusia.

Tujuannya biar teknologi yang canggih tuh nggak bikin pusing, malah ngebantu kita banget. Ini dia beberapa contohnya di berbagai bidang.

User Interface and Experience Design

Di dunia digital sekarang, UI/UX itu penting banget. Kalo aplikasi atau website-nya ribet, orang males pake, bener nggak? Nah, human factors ngebantu banget di sini biar desainnya tuh intuitive, gampang dipahami, dan bikin penggunanya seneng.Kita tuh pengennya tombolnya jelas, informasinya gampang dicari, dan alurnya logis. Prinsip human factors ngebantu para desainer buat mikirin ini:

  • Usability Testing: Ini tuh kayak nyoba produknya langsung sama orang beneran buat liat ada yang susah atau bikin bingung nggak.
  • Information Architecture: Gimana nyusun informasi biar gampang ditemuin, kayak struktur menu atau navigasi.
  • Visual Design: Penggunaan warna, font, dan layout biar enak dilihat dan nggak bikin mata capek.
  • Interaction Design: Gimana interaksi sama sistemnya, misalnya feedback pas kita pencet tombol.

Contohnya, aplikasi ojek online yang udah cakep banget navigasinya, ikonnya jelas, dan langkah pesennya nggak pake mikir. Itu hasil dari penerapan human factors yang kuat.

“The best design is the one you don’t even notice.”

Aviation and Aerospace Psychology

Di dunia penerbangan, kesalahan kecil bisa fatal. Makanya, human factors itu krusial banget buat mastiin pilot, kru, dan sistemnya kerja bareng dengan aman. Fokusnya tuh biar mengurangi human error.Ini beberapa area pentingnya:

  • Cockpit Design: Tata letak tombol, layar, dan instrumen di kokpit itu dirancang biar pilot gampang liat dan ngaksesnya, terutama pas situasi darurat.
  • Crew Resource Management (CRM): Ini tentang komunikasi dan kerja sama tim antar pilot dan kru. Penting banget biar semua informasi tersampaikan dengan jelas.
  • Fatigue Management: Jadwal penerbangan yang nggak bikin pilot kecapean, karena kelelahan itu musuh utama keselamatan.
  • Training: Pelatihan pilot dan kru yang efektif, termasuk simulasi situasi darurat.

Insiden pesawat yang berhasil dicegah atau dikurangi dampaknya seringkali karena penerapan prinsip human factors yang baik, kayak standarisasi prosedur dan desain kokpit yang user-friendly.

Healthcare and Medical Device Design

Di rumah sakit, pasien bergantung banget sama alat-alat medis. Kalo alatnya susah dipake atau salah instruksinya, bisa bahaya banget. Human factors ngebantu bikin alat-alat medis jadi lebih aman dan efektif buat dokter, perawat, sampe pasien.Beberapa contoh penerapannya:

  • Drug Delivery Systems: Desain syringe, infus, atau pompa obat yang jelas dosisnya, gampang dipasang, dan ngasih peringatan kalo ada kesalahan.
  • Medical Imaging Devices: Interface mesin MRI atau CT scan yang gampang dioperasikan operatornya biar ngasilin gambar yang akurat.
  • Electronic Health Records (EHR): Sistem rekam medis digital yang mudah diakses dan di-update sama tenaga medis tanpa bikin mereka kelabakan.
  • Surgical Tools: Desain alat bedah yang nyaman digenggam dan presisi buat ngebantu dokter pas operasi.

Bayangin aja pompa infus yang tampilannya membingungkan, bisa bikin perawat salah ngasih dosis obat. Makanya, desain yang ngutamain kemudahan dan keamanan itu penting banget.

Industrial and Organizational Psychology

Di pabrik atau kantor, human factors ngebantu bikin lingkungan kerja yang produktif, aman, dan bikin karyawan betah. Ini bukan cuma soal bikin kerjaan cepet selesai, tapi juga soal kesehatan dan kebahagiaan karyawan.Ini beberapa contohnya:

  • Workstation Design: Tata letak meja, kursi, dan peralatan kerja biar ergonomis, ngurangi risiko cedera punggung atau tangan.
  • Process Optimization: Menyederhanakan alur kerja biar efisien dan ngurangi kebingungan atau kesalahan.
  • Safety Training: Pelatihan keselamatan kerja yang efektif, nggak cuma teori tapi juga praktik.
  • Teamwork and Communication: Membangun sistem komunikasi yang baik antar karyawan dan antar departemen.

Contohnya, pabrik yang punya line produksi dengan pencahayaan bagus, alat-alat yang gampang dijangkau, dan instruksi kerja yang jelas, biasanya punya tingkat kecelakaan kerja yang lebih rendah dan produktivitas yang lebih tinggi.

Safety-Critical Systems

Ini tuh sistem di mana kegagalan sekecil apapun bisa punya konsekuensi yang parah, kayak di pembangkit listrik tenaga nuklir, sistem kontrol lalu lintas udara, atau sistem pertahanan. Human factors jadi benteng terakhir buat mencegah bencana.Penerapannya meliputi:

  • Alarm and Warning Systems: Desain alarm yang jelas, mudah dibedakan, dan ngasih informasi yang cukup buat operator ngambil tindakan.
  • Decision Support Systems: Sistem yang ngebantu operator bikin keputusan yang tepat di situasi yang kompleks dan mendesak.
  • Error Detection and Recovery: Merancang sistem biar bisa mendeteksi kesalahan manusia dan punya mekanisme buat memulihkan kondisi.
  • Automation Design: Kapan sebaiknya teknologi ngambil alih tugas, dan kapan manusia yang harus tetap memegang kendali.

Di industri nuklir misalnya, desain panel kontrolnya itu super detail. Setiap tombol punya fungsi spesifik, ada indikator yang jelas, dan prosedur daruratnya udah dilatih berkali-kali. Tujuannya biar operator nggak panik dan bisa ngambil keputusan yang tepat pas ada anomali.

Methodologies and Research Approaches

Life Cycle of Human | GeeksforGeeks

Nah, jadi setelah kita ngobrolin apa itu human factors dan sejarahnya, sekarang kita bakal nyelam ke cara-cara orang human factors tuh ngelakuin riset. Ini penting banget biar kita tau gimana caranya ngerancang sesuatu yang beneran pas buat manusia, bukan cuma asal jadi. Kita bakal bahas macem-macem metode, dari yang ngeliatin orang langsung sampe yang pake eksperimen ketat.Metodologi dalam human factors itu kaya toolkit buat para peneliti.

Tujuannya macem-macem, ada yang buat ngerti gimana orang make sesuatu, ada yang buat nyari tau apa aja yang bikin orang bingung atau salah, dan ada juga yang buat ngukur seberapa efektif dan efisien sih suatu sistem atau produk. Pake metode yang tepat itu kunci sukses biar hasil risetnya valid dan bisa dipake buat perbaikan beneran.

Hypothetical User Study Design

Kita bikin studi kasus nih, bayangin kita mau bikin aplikasi ojek online baru yang lebih canggih. Masalahnya, aplikasi yang lama banyak dikeluhin sama driver soal navigasi yang suka ngaco pas di gang-gang sempit. Nah, kita mau bikin studi buat nguji aplikasi baru kita ini.

Studi ini bakal ngajak 20 driver ojek online yang udah berpengalaman. Kita bakal bagi mereka jadi dua grup:

  • Grup A (10 orang): Pake aplikasi lama yang navigasinya suka bermasalah.
  • Grup B (10 orang): Pake aplikasi baru kita yang katanya udah diperbaiki navigasinya.

Peserta bakal dikasih tugas yang sama, yaitu nganterin penumpang dari titik A ke titik B di area perkotaan yang lumayan padat dan banyak gang sempit. Selama mereka jalan, kita bakal ngerekam layar HP mereka, suara mereka (kalau mereka ngomong), dan juga pake GPS buat ngerekam rute yang mereka ambil. Kita juga bakal ngasih kuesioner setelah mereka selesai tugas buat nanya soal pengalaman mereka, seberapa gampang navigasinya, dan seberapa puas mereka sama aplikasi.

Data yang kita kumpulin bakal dianalisis buat bandingin:

  • Akurasi rute yang ditempuh (seberapa sering mereka nyasar atau salah belok).
  • Waktu tempuh yang dibutuhkan.
  • Jumlah interaksi sama aplikasi (misalnya, seberapa sering mereka nge-zoom peta atau nanya arah).
  • Tingkat kepuasan pengguna dari kuesioner.

Harapannya, grup B bakal nunjukin hasil yang lebih baik di semua metrik ini, terutama soal akurasi rute di area yang susah.

Common Observational Methods

Observasi itu kaya ngintipin orang pas lagi ngelakuin sesuatu tanpa ganggu. Di human factors, metode ini penting banget buat ngeliat perilaku asli orang pas pake produk atau sistem di dunia nyata. Ini ngasih kita data yang kaya, yang kadang nggak bisa didapet dari nanya-nanya doang.Metode observasi yang sering dipake itu macem-macem, tergantung konteksnya:

  • Naturalistic Observation: Ini paling santai, kita ngeliatin orang di lingkungan mereka sehari-hari pas lagi make produk. Misalnya, ngeliatin orang pake aplikasi belanja di rumah atau ngeliatin pilot di kokpit pesawat pas lagi simulasi. Tujuannya biar ngeliat perilaku yang paling alami.
  • Participant Observation: Nah, kalau ini, peneliti ikut jadi bagian dari aktivitas yang diobservasi. Misalnya, peneliti pura-pura jadi pelanggan di toko buat ngeliat gimana orang berinteraksi sama produk di sana. Ini bisa ngasih pemahaman yang lebih dalam, tapi butuh hati-hati biar nggak ngubah perilaku orang yang diobservasi.
  • Structured Observation: Di sini, peneliti udah nentuin mau ngeliatin apa aja secara spesifik. Misalnya, di tabel observasi udah ada daftar perilaku yang dicari, kaya “klik tombol X”, “baca instruksi”, atau “ekspresi bingung”. Ini lebih terstruktur dan gampang dianalisis, tapi kadang bisa kehilangan momen-momen tak terduga.
  • Video Recording: Ini sering banget dipake buat nyimpen rekaman pas observasi. Nanti rekaman ini bisa ditonton ulang berkali-kali buat analisis yang lebih detail, bahkan bisa dipake buat nunjukin temuan ke orang lain.

Usability Testing Process for Digital Products

Usability testing itu intinya nyari tau seberapa gampang dan efektif sih produk digital (kaya aplikasi atau website) buat dipake sama target penggunanya. Tujuannya biar produknya nggak bikin frustrasi dan beneran bisa dipake buat nyelesaiin tugas.Prosesnya biasanya gini:

  1. Menentukan Tujuan dan Skenario: Pertama, kita harus jelas mau nguji apa aja. Misalnya, buat aplikasi e-commerce, tujuannya bisa buat nguji seberapa gampang orang nemuin produk, masukin ke keranjang, sampe checkout. Skenarionya bisa kaya “Bayangkan kamu mau beli sepatu lari warna biru, cari produknya, tambahin ke keranjang, dan selesaikan pembeliannya.”
  2. Merekrut Peserta: Kita cari orang yang beneran jadi target pengguna produk kita. Kalau aplikasinya buat anak muda, ya kita cari anak muda. Jumlahnya biasanya antara 5-8 orang per sesi udah cukup buat nemuin banyak masalah usability.
  3. Melakukan Sesi Pengujian: Peserta dikasih skenario tadi dan diminta buat nyelesaiin tugasnya sambil ngomongin apa aja yang mereka pikirin (ini namanya “think-aloud protocol”). Peneliti ngeliatin, nyatet, dan kadang nanya-nanya kalau ada yang nggak jelas. Penting banget buat bikin peserta nyaman biar mereka nggak ngerasa dihakimi.
  4. Menganalisis Data: Setelah sesi selesai, data yang dikumpulin (catatan peneliti, rekaman video, atau hasil kuesioner) dianalisis. Kita cari pola masalah, misalnya banyak orang bingung sama tombol yang sama, atau ada langkah yang terlalu panjang.
  5. Memberikan Rekomendasi: Berdasarkan analisis, kita kasih saran perbaikan yang konkret buat tim developer. Misalnya, “Tombol ‘Tambah ke Keranjang’ perlu dibikin lebih gede dan warnanya lebih mencolok” atau “Proses checkout perlu dikurangin satu langkah.”

Cognitive Task Analysis Techniques

Cognitive task analysis (CTA) itu cara buat ngertiin proses berpikir orang pas lagi ngerjain tugas yang kompleks. Ini penting banget buat ngerancang sistem yang dukung kognisi manusia, bukan malah bikin repot. CTA fokus sama pengetahuan, strategi, dan keputusan yang diambil sama orang.Beberapa teknik CTA yang sering dipake:

  • Critical Decision Method (CDM): Teknik ini nyari tau gimana orang ngambil keputusan penting pas lagi situasi yang sulit atau kritis. Peneliti nanya ke ahli (misalnya pilot, dokter) soal pengalaman mereka ngadepin situasi yang menantang, apa aja yang mereka pikirin, dan kenapa mereka ngambil keputusan tertentu.
  • Hierarchical Task Analysis (HTA): HTA ini mecah-mecah tugas kompleks jadi bagian-bagian yang lebih kecil dan terstruktur secara hierarkis. Kita mulai dari tujuan utama, terus dipecah jadi sub-tugas, sampe ke tindakan-tindakan dasar. Ini bantu ngeliat urutan dan ketergantungan antar langkah.
  • Cognitive Walkthrough: Teknik ini biasanya dipake buat evaluasi desain awal. Peneliti pura-pura jadi pengguna dan ngelewatin setiap langkah dari tugas yang ada di antarmuka produk, sambil mikirin apakah pengguna bakal ngerti apa yang harus dilakuin di setiap langkahnya, apa yang mereka butuhin, dan apa yang bisa bikin mereka salah.
  • Knowledge Acquisition: Ini lebih umum, tujuannya buat ngumpulin pengetahuan dari para ahli. Bisa pake wawancara mendalam, observasi, atau analisis dokumen. Intinya, kita mau ngerti “gimana sih cara orang ahli itu mikir dan bertindak.”

Experimental Designs to Assess Human Performance

Eksperimen itu cara paling ketat buat ngukur efek dari satu variabel ke variabel lain. Di human factors, ini dipake buat nguji hipotesis secara objektif, misalnya, “Apakah tombol baru yang kita desain bikin orang lebih cepet nyelesaiin tugas?”Cara ngelakuinnya gini:

Kita butuh setidaknya dua kelompok: satu kelompok kontrol (yang pake kondisi standar/lama) dan satu kelompok eksperimen (yang pake kondisi baru yang mau diuji).

Contohnya, kita mau nguji performa ngetik di keyboard baru:

  • Variabel Independen: Jenis keyboard (keyboard A vs. keyboard B). Ini yang kita ubah-ubah.
  • Variabel Dependen: Kecepatan ngetik (kata per menit) dan jumlah kesalahan ngetik. Ini yang kita ukur buat liat dampaknya.

Kita bisa pake beberapa desain eksperimen:

  • Between-Subjects Design: Peserta dibagi jadi dua grup, satu pake keyboard A, satu pake keyboard B. Kita bandingin hasil kedua grup. Keuntungannya, nggak ada efek “latihan” dari satu kondisi ke kondisi lain. Kerugiannya, butuh lebih banyak peserta.
  • Within-Subjects Design: Semua peserta nyobain kedua keyboard, tapi urutannya diacak biar nggak bias. Misalnya, setengah peserta nyobain A dulu baru B, setengah lagi nyobain B dulu baru A. Keuntungannya, butuh peserta lebih sedikit. Kerugiannya, ada kemungkinan efek carry-over (pengalaman dari kondisi pertama mempengaruhi kondisi kedua).

Misalnya, kita ngajak 30 orang, dibagi jadi dua grup (15 di grup A, 15 di grup B). Masing-masing diminta ngetik teks yang sama selama 5 menit. Kita ukur kecepatan dan kesalahan mereka. Terus, kita pake analisis statistik buat liat ada perbedaan signifikan nggak antara kedua grup. Kalau keyboard B bikin mereka ngetik lebih cepet dan lebih sedikit salah, berarti keyboard B lebih unggul dari sisi performa.

Interdisciplinary Nature

Stockvector The human body: female. Human body anatomy with icons of ...

Human factors psychology, teu, itu teu bisa berdiri sendiri, gaes. Ibaratnya kayak nasi padang, kudu ada lauk pauknya biar makin mantep. Bidang ini tuh nyerep ilmu dari mana-mana, biar makin komprehensif gitu. Kudu ngerti juga gimana cara ngadepin manusia, tapi juga gimana bikin sistemnya yang efisien dan aman. Makanya, banyak banget bidang lain yang nyambung sama human factors.Ini tuh kayak gabungan ilmu-ilmu keren buat mecahin masalah manusia sama teknologi.

Jadi, nggak cuma ngertiin otak manusia doang, tapi juga gimana bikin alat atau sistem yang cocok sama manusia. Biar pas gitu, nggak bikin pusing atau malah celaka.

Cognitive Science and Human Factors Psychology Overlap

Nah, cognitive science itu kan studi tentang pikiran dan proses mental. Human factors psikologi tuh pake banget ilmu ini buat ngertiin gimana orang mikir, ngambil keputusan, ngapalin, dan ngolah informasi. Kalo udah ngertiin itu, baru deh bisa bikin antarmuka (interface) yang gampang dipake, instruksi yang jelas, atau sistem yang nggak bikin salah paham.Contohnya gini, cognitive science neliti gimana orang bisa lupa, nah human factors pake ilmu itu buat mikirin gimana desain produk biar orang nggak gampang lupa pake atau nyimpen barangnya.

So, human factors in psychology is all about understanding how people interact with systems and environments, right? If you’re curious about diving deeper into this, you might be wondering what colleges have a good psychology program that covers these fascinating areas. Learning about these principles helps us design better, safer, and more efficient experiences, which is the core of human factors.

Atau, cognitive science neliti gimana orang bisa salah persepsi, nah human factors pake buat bikin rambu-rambu lalu lintas yang jelas biar nggak ada yang salah ngartiin.

Contributions of Engineering and Psychology to Human Factors

Ini tuh kayak dua sisi mata uang, gaes. Psikologi ngasih tau gimana cara kerja manusia, apa yang bikin nyaman, apa yang bikin stres, gimana cara belajar, dan sebagainya. Insinyur (engineer) di sisi lain, ngasih tau gimana bikin teknologinya, gimana bikin alatnya, gimana bikin sistemnya.

Psikologi ngasih pemahaman tentang:

  • Persepsi manusia (gimana ngeliat, denger, ngerasa)
  • Kognisi (gimana mikir, inget, ngambil keputusan)
  • Motivasi dan emosi
  • Batasan fisik dan mental manusia

Sementara itu, engineering ngasih kontribusi dalam:

  • Desain fisik produk dan sistem
  • Analisis kinerja dan efisiensi
  • Keamanan dan keandalan sistem
  • Implementasi teknologi baru

Jadi, kalo psikolog bilang, “Wah, tombol ini kegedean, bikin orang salah pencet,” insinyur bakal mikir, “Oke, gue kecilin tombolnya, tapi jangan sampe susah diteken.” Kudu nyambung gitu.

Relationship Between Human Factors and Ergonomics

Sering banget dua istilah ini ketuker, tapi sebenernya deket banget hubungannya. Ergonomi itu fokusnya bikin lingkungan kerja atau produk itu cocok sama kemampuan fisik dan mental manusia. Tujuannya biar nyaman, aman, dan efisien. Human factors tuh lebih luas, nggak cuma soal fisik, tapi juga soal mental, kognitif, sosial, dan organisasi.

Ergonomi tuh lebih ke:

  • Desain kursi biar punggung nggak sakit
  • Tata letak alat di pabrik biar gampang dijangkau
  • Posisi kerja yang baik biar nggak cedera

Nah, human factors tuh nyakup itu semua, ditambah lagi mikirin gimana orang berinteraksi sama komputer, gimana bikin pesawat aman buat pilot, atau gimana bikin prosedur kerja yang nggak bikin stres. Jadi, ergonomi itu salah satu bagian penting dari human factors.

Role of Social Psychology in Understanding Group Dynamics Within Systems

Nggak cuma individu, manusia kan juga makhluk sosial. Di dalam sistem, seringkali ada kerja sama tim, komunikasi antar anggota, atau bahkan konflik. Nah, di sinilah social psychology berperan. Bidang ini bantu kita ngerti gimana interaksi antar orang ngaruh ke kinerja sistem.Misalnya, di kokpit pesawat, pilot dan kopilot harus kompak. Kalo ada masalah komunikasi atau ego yang gede, bisa bahaya.

Social psychology bantu kita mikirin gimana bikin tim yang solid, gimana ngatasin konflik, atau gimana bikin budaya kerja yang baik.

“Kesuksesan sistem seringkali bergantung pada kesuksesan interaksi antar manusianya.”

Ini penting banget, apalagi di sistem yang kompleks kayak rumah sakit, perusahaan gede, atau bahkan tim olahraga. Kalo anggota timnya nggak akur, meskipun teknologinya canggih, tetep aja bisa gagal. Makanya, ngertiin dinamika kelompok itu krusial buat human factors.

Ethical Considerations

HUMAN by Yann Arthus-Bertrand - Official Trailer - YouTube

Bro, when we’re messing around with human factors research, especially when it involves real people, we gotta be super careful. It’s not just about getting cool data, but making sure everyone involved is treated right and nobody gets screwed over. This is where the ethics kick in, making sure our work is legit and respects the humans we’re studying.Basically, ethical considerations in human factors are all about keeping things fair, safe, and respectful.

We’re designing stuff for people, so we gotta think about their well-being, their privacy, and their right to choose. It’s a big deal, and ignoring it can lead to some serious problems, not just for the participants but for the whole field.

Research Participant Ethical Responsibilities

When we’re doing research with actual humans in human factors studies, there’s a bunch of stuff we gotta keep in mind to make sure we’re not being shady. It’s all about protecting the people who are helping us out with our work.

  • Voluntary Participation: People gotta be totally free to join or not join the study, and they can bail out anytime without any hassle or penalty. No pressuring anyone, okay?
  • Informed Consent: This is huge. Participants need to know exactly what they’re getting into – what the study is about, what they’ll be doing, any potential risks or benefits, and how their data will be used. They gotta give their “okay” before anything starts.
  • Confidentiality and Anonymity: Whatever info we collect, we gotta keep it private. Anonymity means nobody can link the data back to the person, and confidentiality means we’re keeping their identity secret even if we know who they are.
  • Minimizing Harm: We gotta do our best to make sure the study doesn’t cause any physical or psychological distress. If there’s a chance of harm, we gotta warn them and have plans to deal with it.
  • Debriefing: After the study, especially if there was any deception involved (which should be rare and justified), we need to explain everything to the participants and make sure they’re okay.

Informed Consent Importance

Informed consent is like the golden rule in human factors research. It’s the bedrock of ethical practice, ensuring that participants are active collaborators, not just passive subjects. Without it, the whole research process is questionable.

“Informed consent is a process, not just a signature. It’s about ensuring participants understand what they are agreeing to.”

This process involves a clear and understandable explanation of the research objectives, procedures, potential risks and benefits, and the participant’s right to withdraw. It’s crucial for building trust and maintaining the integrity of the research. For example, if a study is testing a new interface for a critical system like air traffic control, participants must be fully aware of the simulated nature of the test, any potential for frustration or confusion with the new design, and that their feedback is vital for improving safety, not for evaluating their individual performance.

User Well-being in Design Processes

Ensuring the well-being of users isn’t just a nice-to-have; it’s a fundamental ethical responsibility when we’re designing anything that people will interact with. We’re talking about creating systems, products, and environments that are not only effective but also safe, comfortable, and don’t cause unnecessary stress or harm.When designing, we need to consider a bunch of things to make sure users are looked after:

  • Safety First: This is non-negotiable. Designs must prevent accidents, injuries, or any form of physical harm. Think about the design of medical devices – a small error could have life-threatening consequences. Human factors engineers work to ensure these devices are intuitive and reduce the chance of user error.
  • Reducing Cognitive Load: We don’t want to overload people’s brains. Designs should be easy to understand and use, minimizing the mental effort required. For instance, a well-designed app will present information clearly and logically, avoiding confusing menus or jargon, which helps prevent user frustration and errors.
  • Accessibility: Designs should be usable by as many people as possible, including those with disabilities. This means considering visual impairments, hearing difficulties, motor limitations, and cognitive differences. For example, websites with good contrast ratios and keyboard navigation options are more accessible to a wider range of users.
  • Preventing Psychological Distress: This includes avoiding designs that are overly frustrating, anxiety-inducing, or demeaning. A poorly designed customer service interface that makes it impossible to reach a human can cause significant stress.
  • User Control and Feedback: Users should feel in control of the systems they are using and receive clear feedback on their actions. When you press a button on a website and something happens, and you get a confirmation, that’s good feedback. Lack of feedback can lead to confusion and errors.

We can use methods like usability testing, user interviews, and heuristic evaluations to identify potential issues that could impact user well-being before a product is even released. It’s about being proactive and putting the user at the center of the design process.

Future Directions and Emerging Trends

What are human factors in psychology

Nah, kita udah ngobrolin banyak soal human factors, dari sejarahnya sampe penerapannya. Sekarang, yuk kita intip ke depan, gimana sih human factors ini bakal berkembang dan tren-tren apa aja yang lagi naik daun. Dunia kan cepet banget berubah, jadi riset dan aplikasi human factors juga harus terus ngejar biar relevan.Kita bakal liat gimana teknologi baru, kayak AI dan macem-macem gadget canggih lainnya, bakal ngasih tantangan sekaligus peluang buat para ahli human factors.

Terus, soal desain yang lebih merangkul semua orang juga makin penting banget nih.

Artificial Intelligence and Human Factors Integration

Kecerdasan buatan (AI) tuh udah jadi topik panas di mana-mana, termasuk di dunia human factors. AI ini bukan cuma soal bikin robot pinter aja, tapi gimana manusia bisa berinteraksi sama sistem AI ini dengan aman, efisien, dan nyaman. Para peneliti human factors lagi giat-giatnya nyari cara biar interaksi manusia-AI ini mulus, kayak gimana AI bisa ngasih rekomendasi yang tepat tanpa bikin bingung, atau gimana sistem AI bisa deteksi kalau penggunanya lagi stres atau butuh bantuan.Salah satu area yang lagi difokusin adalah gimana AI bisa bantu ngurangincognitive load* atau beban pikiran manusia.

Misalnya, di kokpit pesawat, AI bisa bantu pilot ngawasin banyak data dan ngasih peringatan penting aja, jadi pilot nggak perlu mikirin semuanya sendiri.

“AI tuh ibarat asisten pribadi, tapi versi super canggih. Gimana caranya biar dia nggak malah bikin ribet, nah itu tugasna human factors.”

Emerging Technologies and Human Factors Challenges

Selain AI, banyak teknologi baru lain yang muncul dan bikin para ahli human factors harus mikir keras. Mulai dari

  • virtual reality* (VR) dan
  • augmented reality* (AR) yang makin canggih, sampe teknologi
  • wearable* yang makin nempel di badan kita. Teknologi-teknologi ini buka banyak kemungkinan baru, tapi juga dateng sama tantangan unik.

Misalnya, gimana bikin pengalaman VR yang nggak bikin pusing atau mual (*cybersickness*)? Atau gimana cara desainwearable device* yang nyaman dipake seharian dan datanya akurat? Tantangannya tuh banyak, mulai dari desain antarmuka yang intuitif sampe gimana ngatur informasi yang disajikan biar nggak overwhelming.Contoh nyatanya, di dunia kesehatan, teknologi VR dipake buat terapi rehabilitasi fisik. Nah, di sini human factors berperan penting banget buat mastiin pasien bisa pake alatnya dengan bener, nggak cedera, dan terapi yang dijalani efektif.

Inclusive Design and Human Factors

Konsep desain yang inklusif tuh makin jadi sorotan. Artinya, produk atau sistem tuh harus bisa dipake sama semua orang, nggak peduli usia, kemampuan fisik, latar belakang budaya, atau bahkan kondisi disabilitas. Dari sudut pandang human factors, ini penting banget biar nggak ada yang ketinggalan.Ini bukan cuma soal bikin tombol yang gede aja, tapi gimana memahami keragaman kebutuhan pengguna secara mendalam.

Misalnya, gimana bikin website yang gampang diakses sama orang tunanetra, atau gimana desain transportasi publik yang ramah buat orang tua atau pengguna kursi roda.

“Desain nu inklusif teh lain ngan saukur gaya-gayaan, tapi kudu bener-bener ngerti jeung ngahargaan kana sagala rupa kabutuhan jelema.”

Para desainer dan insinyur sekarang makin sadar kalau ngembangin produk tanpa mikirin keragaman pengguna tuh sama aja bohong. Human factors ngasih kerangka kerja dan metodologi buat ngejar tujuan inklusivitas ini, memastikan bahwa teknologi yang kita ciptain benar-benar bermanfaat buat semua orang.

Epilogue

What are human factors in psychology

So, what are human factors in psychology? It’s the art and science of designing systems, products, and environments that fit the people who use them. By deeply understanding human cognition, perception, and behavior, we can create a world that’s not just functional, but intuitive, safe, and enjoyable. The journey from historical curiosity to essential design principle highlights its enduring relevance and exciting future.

FAQ Explained

What is the primary goal of human factors in psychology?

The primary goal is to optimize the interaction between humans and systems, ensuring safety, efficiency, and user satisfaction by designing systems that match human capabilities and limitations.

How did human factors psychology emerge?

It emerged significantly during World War II, driven by the need to improve the design of complex military equipment and training to reduce errors and enhance performance.

Can you give an example of a cognitive bias affecting design?

Confirmation bias, where people favor information confirming their existing beliefs, can lead designers to overlook potential usability issues if they only seek feedback that validates their initial design choices.

What is usability testing?

Usability testing is a method for evaluating a product or system by testing it with representative users to observe their behavior, identify problems, and gather feedback for improvement.

How does human factors relate to ergonomics?

Human factors and ergonomics are often used interchangeably, but ergonomics broadly focuses on physical and mental capabilities, while human factors in psychology specifically emphasizes cognitive and psychological aspects of human-system interaction.

What are emerging trends in human factors?

Emerging trends include the impact of artificial intelligence, the design of human-robot collaboration, the increasing importance of inclusive and accessible design, and the application of human factors in virtual and augmented reality environments.